Tampilkan postingan dengan label Social. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Social. Tampilkan semua postingan
Jumat, 31 Agustus 2012
Titik-titik Pijat Refleksi
Gambar dibawah ini adalah titik-titik pijat refleksi, yang mungkin bisa berguna bagi pembaca.
Jumat, 20 Juli 2012
Tukang Becak yang Jadi Juragan Garam
Jakarta - Untuk menjadi pengusaha sukses tidak mengenal latar belakang seseorang. Kerja keras, kejelian dan bertahan dari jatuh bangun menjadi kunci siapapun yang ingin menjadi pengusaha sukses.
Lika-liku ini juga dialami oleh Sanin, pria paruh baya yang sebelumnya berprofesi sebagai tukang becak ini sukses menjadi pengusaha garam yang beromzet Rp 400 juta per tahun.
Pengusaha asal Cirebon ini mengatakan saat menjadi tukang becak, ia melihat peluang usaha di daerahnya yang masih terbuka luas dan relatif mudah dijalankan karena daerahnya merupakan sentral penghasil garam. Sanin memberanikan diri untuk belajar membuat garam pada sebuah pabrik, akhirnya ia memulai untuk membuat garam sendiri.
"Dulunya saya tukang becak, kira-kira dua tahun di prapatan jalan Cirebon ada pabrik garam. Setelah itu kita menimba ilmu di situ, kemudian kita kerja kurang lebih selama dua bulan. setelah itu kita bikin di belakang rumah. Saya dan istri coba-coba melakukan itu, akhirnya dijual ke pasar lalu laku," ungkap Sanin beberapa waktu lalu di Jakarta kepada detikFinance.
Melalui ketekunannya, pelanggan garam olahan buatan Sanin pun bertambah banyak. Sehingga ia pun membangun pabrik garam sendiri dan mempekerjakan tetangganya sebagai karyawan.
"Lambat laun ternyata keuntungan kita tambah besar dan banyak peminatnya. Akhirnya kita menambah karyawan dari tetangga-tetangga kita lalu kita bisa membeli tanah untuk tempat produksi yang lebih luas lagi dan sekarang ada pabrik, yakni pabrik garam," tambahnya.
Sanin mengaku, dalam setahun ia bisa menghasilkan garam minimal mencapai 2.000 ton. Sanin mengaku kewalahan memenuhi permintaan garam olahan yang datang dari Cirebon dan luar kota.
"Pasaran kita di daerah Cirebon, Kuningan, dan Jawa Tengah. Justru kita nyari orang kerjanya agak susah. Kalau barang jualnya habis-habis terus, tak pernah berkurang. Karena pemasaran banyak sekali setelah beredar," sambungnya.
Usahanya yang ditekuni Sanin sejak 30 tahun silam bukannya tanpa tantangan. Ketika usahanya tumbuh dan membutuhkan tambahan modal, ia pernah ditolak saat mengajukan pinjaman ke sebuah bank karena dianggap usahanya tidak menjanjikan. Berkat kegigihannya, akhirnya Sanin pun bisa memperoleh pinjaman.
"Kita pernah mengajukan utang pinjaman ke bank, tapi waktu itu ditolak. Katanya setelah ditolak, bangunnya masih bilik. Setelah itu akhirnya kita ke bank lain. setelah diproses dan melihat prospek perkembangan usaha kita, akhirnya kita dapat dana dan akhirnya usaha kita berkembang sampai sekarang. Sekarang punya tanah, punya kantor, punya pabrik," sebutnya
Pria yang tidak tamat pendidikan sekolah dasar (SD) ini menjelaskan hasil usahanya bisa membuat ia naik haji beberapa kali dan menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang sarjana. Usaha yang ditekuni Sanin saat ini, juga telah merambah ke pabrik pembuatan pupuk.
"Anak saya pun kini sarjana semua. Sementara saya pendidikan kelas 4 SR (setara SD) dulu. Makanya kita punya anak tidak mau mengalami masa muda seperti kita, makanya kita sekolahkan semua itu. Kita haji pun sudah dua kali, malah akan datang tahun depan mau umroh dulu," tutup Sanin.
Source: Detik Finance
Lika-liku ini juga dialami oleh Sanin, pria paruh baya yang sebelumnya berprofesi sebagai tukang becak ini sukses menjadi pengusaha garam yang beromzet Rp 400 juta per tahun.
Pengusaha asal Cirebon ini mengatakan saat menjadi tukang becak, ia melihat peluang usaha di daerahnya yang masih terbuka luas dan relatif mudah dijalankan karena daerahnya merupakan sentral penghasil garam. Sanin memberanikan diri untuk belajar membuat garam pada sebuah pabrik, akhirnya ia memulai untuk membuat garam sendiri.
"Dulunya saya tukang becak, kira-kira dua tahun di prapatan jalan Cirebon ada pabrik garam. Setelah itu kita menimba ilmu di situ, kemudian kita kerja kurang lebih selama dua bulan. setelah itu kita bikin di belakang rumah. Saya dan istri coba-coba melakukan itu, akhirnya dijual ke pasar lalu laku," ungkap Sanin beberapa waktu lalu di Jakarta kepada detikFinance.
Melalui ketekunannya, pelanggan garam olahan buatan Sanin pun bertambah banyak. Sehingga ia pun membangun pabrik garam sendiri dan mempekerjakan tetangganya sebagai karyawan.
"Lambat laun ternyata keuntungan kita tambah besar dan banyak peminatnya. Akhirnya kita menambah karyawan dari tetangga-tetangga kita lalu kita bisa membeli tanah untuk tempat produksi yang lebih luas lagi dan sekarang ada pabrik, yakni pabrik garam," tambahnya.
Sanin mengaku, dalam setahun ia bisa menghasilkan garam minimal mencapai 2.000 ton. Sanin mengaku kewalahan memenuhi permintaan garam olahan yang datang dari Cirebon dan luar kota.
"Pasaran kita di daerah Cirebon, Kuningan, dan Jawa Tengah. Justru kita nyari orang kerjanya agak susah. Kalau barang jualnya habis-habis terus, tak pernah berkurang. Karena pemasaran banyak sekali setelah beredar," sambungnya.
Usahanya yang ditekuni Sanin sejak 30 tahun silam bukannya tanpa tantangan. Ketika usahanya tumbuh dan membutuhkan tambahan modal, ia pernah ditolak saat mengajukan pinjaman ke sebuah bank karena dianggap usahanya tidak menjanjikan. Berkat kegigihannya, akhirnya Sanin pun bisa memperoleh pinjaman.
"Kita pernah mengajukan utang pinjaman ke bank, tapi waktu itu ditolak. Katanya setelah ditolak, bangunnya masih bilik. Setelah itu akhirnya kita ke bank lain. setelah diproses dan melihat prospek perkembangan usaha kita, akhirnya kita dapat dana dan akhirnya usaha kita berkembang sampai sekarang. Sekarang punya tanah, punya kantor, punya pabrik," sebutnya
Pria yang tidak tamat pendidikan sekolah dasar (SD) ini menjelaskan hasil usahanya bisa membuat ia naik haji beberapa kali dan menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang sarjana. Usaha yang ditekuni Sanin saat ini, juga telah merambah ke pabrik pembuatan pupuk.
"Anak saya pun kini sarjana semua. Sementara saya pendidikan kelas 4 SR (setara SD) dulu. Makanya kita punya anak tidak mau mengalami masa muda seperti kita, makanya kita sekolahkan semua itu. Kita haji pun sudah dua kali, malah akan datang tahun depan mau umroh dulu," tutup Sanin.
Source: Detik Finance
Mengapa Orang Kaya Semakin Kaya
Jakarta - Istilah orang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin, sudah sering kita dengar. Kenyataannya fenomena itu memang benar-benar terjadi dalam kehidupan kita.
Berikut ini penjelasan singkat pakar marketing Tung Desem Waringin, bagaimana kita berpikir dan memposisikan diri sebagai orang yang kaya, menengah atau bahkan hanya sebagai orang miskin:
Mengapa orang kaya semakin kaya? Karena begitu orang kaya penghasilannya bertambah besar, maka gaya hidupnya sementara tetap (menunda kesenangan). Penghasilan yang lebih ini di investasikan kedalam asset. Misalnya beli saham yang menghasilkan deviden, rumah kost kost-an, ruko yang dikontrakkan, Mall yang disewakan, sarang walet, usaha-usaha yang menghasilkan, dan lain-lain.
Sedemikian sehingga penghasilan mereka bertambah besar. Dan ketika penghasilan mereka bertambah besar lagi, mereka investasikan lagi ke dalam asset tersebut diatas, sehingga semakin kaya dan semakin kaya lagi.
Mengapa orang menengah bergumul terus secara finansial Ketika orang menengah penghasilannya bertambah besar maka dia mencicil rumah yang lebih besar, mobil yang lebih besar, handphone yang lebih canggih, komputer yang lebih modern, televisi yang lebih besar, audio yang lebih canggih dan banyak sekali uang untuk kewajiban sehingga masuk kedalam pengeluaran.
Orang menengah ini bisa memiliki rumah yang besar, mobil yang besar tapi tidak mempunyai uang yang bekerja untuk dia. Dan seumur hidupnya menjadi budak uang karena membayar cicilan semakin besar seumur hidupnya.
Mengapa orang miskin bablas miskin?
Orang miskin tidak perduli seberapa besar pun penghasilannya semua akan masuk ke pengeluaran.
Contoh:
Orang miskin begitu penghasilannya bertambah besar mereka beli TV yang besar, beli jamnya yang mahal, beli hp yang lebih baru, beli baju mahal, makan di restoran mewah, ikut keanggotaan fitness, ikut asuransi yang tidak perlu, dan lain-lain. Semua dijalankan karena gaya hidup modern atau tidak mau ketinggalan zaman.
Pertanyaannya: Bila penghasilan Anda bertambah besar, Anda belikan apa? Hal-hal yang menghasilkan uang lagi atau hal-hal yang menghabiskan uang. Silahkan dijawab, Anda yang tahu termasuk golongan manakan Anda?
Semoga bermanfaat, Saya Tung Desem Waringin mengucapkan salam dahsyat!
Source: Detik Finance
Berikut ini penjelasan singkat pakar marketing Tung Desem Waringin, bagaimana kita berpikir dan memposisikan diri sebagai orang yang kaya, menengah atau bahkan hanya sebagai orang miskin:
Mengapa orang kaya semakin kaya? Karena begitu orang kaya penghasilannya bertambah besar, maka gaya hidupnya sementara tetap (menunda kesenangan). Penghasilan yang lebih ini di investasikan kedalam asset. Misalnya beli saham yang menghasilkan deviden, rumah kost kost-an, ruko yang dikontrakkan, Mall yang disewakan, sarang walet, usaha-usaha yang menghasilkan, dan lain-lain.
Sedemikian sehingga penghasilan mereka bertambah besar. Dan ketika penghasilan mereka bertambah besar lagi, mereka investasikan lagi ke dalam asset tersebut diatas, sehingga semakin kaya dan semakin kaya lagi.
Mengapa orang menengah bergumul terus secara finansial Ketika orang menengah penghasilannya bertambah besar maka dia mencicil rumah yang lebih besar, mobil yang lebih besar, handphone yang lebih canggih, komputer yang lebih modern, televisi yang lebih besar, audio yang lebih canggih dan banyak sekali uang untuk kewajiban sehingga masuk kedalam pengeluaran.
Orang menengah ini bisa memiliki rumah yang besar, mobil yang besar tapi tidak mempunyai uang yang bekerja untuk dia. Dan seumur hidupnya menjadi budak uang karena membayar cicilan semakin besar seumur hidupnya.
Mengapa orang miskin bablas miskin?
Orang miskin tidak perduli seberapa besar pun penghasilannya semua akan masuk ke pengeluaran.
Contoh:
Orang miskin begitu penghasilannya bertambah besar mereka beli TV yang besar, beli jamnya yang mahal, beli hp yang lebih baru, beli baju mahal, makan di restoran mewah, ikut keanggotaan fitness, ikut asuransi yang tidak perlu, dan lain-lain. Semua dijalankan karena gaya hidup modern atau tidak mau ketinggalan zaman.
Pertanyaannya: Bila penghasilan Anda bertambah besar, Anda belikan apa? Hal-hal yang menghasilkan uang lagi atau hal-hal yang menghabiskan uang. Silahkan dijawab, Anda yang tahu termasuk golongan manakan Anda?
Semoga bermanfaat, Saya Tung Desem Waringin mengucapkan salam dahsyat!
Source: Detik Finance
Jumat, 02 Desember 2011
Sahabatku penjaga rental VCD
Karena hobi nonton film, tempat yang paling sering saya kunjungi adalah rental VCD. Hampir setiap minggu saya pasti pinjam salah satu film di tempat itu. Karena hal itulah saya akhirnya kenal dengan penjaga rental. Kalau ada kesempatan saya sempatkan ngobrol dengan dia, tentang apa saja.
Suatu kali dia bercerita kalau rental VCD ini mau ditutup oleh pemiliknya karena sepi. Kemudian saya tanyakan apa rencana dia selanjutnya. Dia berkeinginan untuk mencari pekerjaan yang baru, tetapi banyak kendala yang dia hadapi, pertama dia tidak memiliki keahlian yang bagus. Kedua, karena dia seorang pendatang di kota Surabaya, dia sampai saat ini belum memiliki indentitas diri, sedang indentitas diri yang sebelumnya masih ada di NTT.
Sambil menitip pesan kalau-kalau saya ada lowongan pekerjaan. Mendengar pesan yang dia sampaikan pikiran saya kemudian mengembara kemana-mana, berandai-andai kalau saja saya mempunyai sebuah perusahaan, saya akan rekrut dia, karena saya melihat dia orang yang mau belajar. Saya tahu persis saat pertama kali dia bekerja di rental VCD tersebut dia sedang diajari menggunakan komputer, saya mengamatinya bahwa komputer adalah sesuatu yang sangat baru bagi dia, tetapi sekarang dia sangat mahir menggunakannya meskipun hanya terbatas program untuk mencatat keluar masuknya VCD yang dipinjam.
Satu-satunya nilai yang sangat berharga pada dirinya adalah kejujurannya. Itu adalah satu-satunya modal yang paling kuat yang dia miliki. Apa yang bisa diandalkan oleh seorang yang sedang mencari pekerjaan disaat tidak mempunyai identitas diri dan ketrampilan apapun, hanya kejujuran, itulah satu-satunya modal yang paling berharga yang harus dimiliki oleh setiap orang.
Kejujuran adalah barang langka saat ini, perusahaan lebih suka mempekerjakan mereka yang terampil tanpa pernah dilihat aspek kejujurannya, karena memang hal itu susah diukur dengan pertemuan yang singkat. Kejujuran seseorang bisa kita ketahui setelah kita melakukan interaksi dalam waktu yang agak lama. Itulah tantangan bagi sebuah perusahaan untuk bisa mendapatkan karyawan yang terampil dan jujur.
Saya berdoa agar sahabat saya “si penjaga rental VCD” bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dan bisa tetap mempertahankan kejujurannya dalam segala keadaan.
Jumat, 25 November 2011
The Thirteen
Adalah judul sebuah film yang dibintangi oleh Jason Statam, menceritakan seorang anak muda yang secara tidak sengaja harus mengikuti sebuah pertandingan yang tidak lazim. Dimana di arena tersebut ada sekitar tiga puluh orang yang berbaris membentuk sebuah lingkaran, setiap peserta diberi sebuah pistol dan sebuah peluru, kemudian sang juri meminta semua peserta memasukkan peluru dan memutar silinder pistol tersebut, sang juri kemudian memberi aba-aba untuk menodongkan pistol masing-masing ke kepala orang yang didepannya, dan mata mereka harus melihat ke sebuah lampu yang ada di tengah mereka, saat lampu menyala setiap peserta harus menarik pelatuknya. Yang beruntung akan hidup, sedangkan yang tidak beruntung akan mati. Dan pertandingan itu dijadikan ajang berjudi bagi orang-orang kaya.
Bagaimana pendapat Anda ?
Kejam… Biadab…. Sinting…. Itu yang ada dalam benak saya setelah menonton film itu, tetapi bagi yang penasaran bisa dicari di rental-rental VCD terdekat dengan rumah Anda. Tetapi kekejaman yang ditampilkan oleh film itu masih kalah kejam dengan apa yang banyak terjadi di bangsa ini, yaitu korupsi.
Bagaimana tidak, coba Anda bayangkan, karena korupsi jalan-jalan yang kita lalui menjadi membahayakan bagi pengguna jalan. Berapa banyak berita yang kita dengar, karena jalan berlubang dan bergelombang sehingga terjadi kecelakaan yang merenggut korban jiwa.
Laporan dari Bank Pembangunan Asia ( ADP ) menyebutkan bahwa rakyat miskin di Indonesia semakin bertambah dibandingkan dengan lima tahun yang lalu ( Catatan: ADB mengkatergorikan rakyat miskin, adalah mereka yang berpenghasilan dibawah US$ 1.25 atau sekitar Rp. 10,625 ). Bank Pembangunan Asia menyebutkan pengurangan penduduk miskin terbesar adalah Cina. (Kompas.com, Kamis 25 Agustus 2011 )
Catatan: Cina adalah Negara yang paling serius memberantas korupsi, mereka menerapkan hukuman mati bagi yang terbukti melakukan korupsi, dan terbukti dalam laporan Bank Pembangunan Asia, Cina mengalami penurunan penduduk miskin terbesar.
Dan masih banyak lagi cerita-cerita miris yang diakibatkan oleh korupsi di bangsa ini.
Sebagai manusia yang menjadi bagian dari bangsa ini sungguh merasa sangat prihatin dengan keadaan ini. Tetapi apa yang bisa saya lakukan, selain menjaga diri sendiri agar tidak ikut larut dalam perilaku korupsi dan juga berdoa bagi bangsa ini agar setiap elemen masyarakat yang ada di bangsa ini mulai berlaku jujur dalam setiap aspek kehidupan.
Uang bukanlah segalanya, tetapi uang hanyalah sebagai alat untuk kita bisa hidup. E Stanley Jones mengatakan : “Uang adalah hamba yang baik tetapi majikan yang mengerikan”.
Selasa, 15 November 2011
Meningkatkan mutu lulusan perguruan tinggi
Seringkali kita mendengar para mahasiswa yang baru lulus kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya, bahkan ada yang bertahun-tahun menganggur dan kemudian mengambil pekerjaan meskipun itu tidak sesuai dengan bidang pendidikannya.
Ketidaksiapan memasuki dunia kerja, salah satunya karena faktor pendidikan. Beberapa aspek penyelenggaraan pendidikan formal kurang memberikan bekal yang cukup. Dunia pendidikan hanya memfokuskan pada aspek akademisnya, dan belum menyentuh aspek praktis.
Itu juga saya rasakan saat saya baru lulus kuliah. Ada rasa minder dan takut saat menghadapi wawancara kerja, sehingga waktu itu saya hanya berpikir kerja apa saja mau asal saya bisa mendapat pengalaman kerja. Saat wawancara kerja pertama kali saya hanya ditanya, mau ditempatkan di Bali, tanpa banyak tanya langsung saya sanggupi. Hanya dengan pertanyaan seperti itu akhirnya saya mendapatkan pekerjaan pertama saya. Akan tetapi tidak semua orang akan mendapatkan keberuntungan seperti itu. Banyak juga pewawancara yang menanyakan hal-hal praktis yang membuat para lulusan baru gelagapan.
Setelah bertahun-tahun berlalu akhirnya saya bisa mengambil pelajaran bahwa pengalaman untuk sedikit mengenyan dunia kerja saat masih duduk di bangku kuliah sangatlah penting. Karena berdasarkan pengalaman saya, waktu-waktu luang saat kuliah sangat banyak dan waktu luang saya waktu itu saya habiskan hanya untuk bermain dan tidak ada hal yang saya habiskan untuk mempersiapkan diri saya untuk menghadapi dunia kerja.
Bukan alasan untuk tidak bisa mengenyam sedikit saja dunia kerja karena dunia pendidikan tidak menyediakan. Ada cara lain yaitu dengan berwirausaha. Dengan berwirausaha diharapkan para mahasiswa memiliki sikap mental wirausaha yakni percaya diri, sadar akan jati dirinya, bermotivasi untuk meraih suatu cita-cita, pantang menyerah, mampu bekerja keras, kreatif, inovatif, berani mengambil risiko dengan perhitungan, berperilaku pemimpin dan memiliki visi ke depan, tanggap terhadap saran dan kritik, memiliki kemampuan empati dan keterampilan sosial.
Dengan cara seperti itu saat para mahasiswa menyelesaikan studinya diharapkan para mahasiswa bisa memadukan sikap, pengetahuan dan keterampilan sehingga bisa menjadi fresh graduate yang kompeten.
Bagaimana pendapat Anda?
Jumat, 11 November 2011
Bonek dan Kepahlawanan Sepuluh November
Tanggal 10 November diperingati sebagai hari Pahlawan. Kegiatan-kegiatan yang sangat umum dilakukan adalah upacara bendera, baik di instansi pemerintahan maupun sekolah. Pada tanggal 10 November 1945 arek-arek Suroboyo melakukan perlawanan terhadap kekuatan sekutu yang mencoba untuk menduduki kota Surabaya. Pertempuran ini adalah pertempuran pertama antara pasukan Indonesia dengan pasukan sekutu yang terjadi setelah Proklamasi Kemerdekaan. Dengan hanya satu tekat mempertahankan kemerdekaan Indonesia, arek-arek Suroboyo merelakan jiwa dan raganya. Tercatat setidaknya 6,000 – 16,000 arek-arek Suroboyo gugur dalam pertempuran tersebut. Pengorbanan ini tidak sia-sia, karena peristiwa itu telah menggerakkan seluruh masyarakat Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan.
Tetapi di jaman sekarang ini nilai-nilai keberanian arek-arek Surob oyo mewujud dalam bentuk yang destruktif, diantaranya adalah bonek. Bonek adalah para pendukung berat team kesebelasan “Persebaya Surabaya”, yang kepanjangan dari Bondo Nekat (= Modal Nekat ). Kenekatan yang pernah saya dengar dari para bonek, dengan hanya berbekal uang Rp. 10,000 mereka nekat untuk berangkat ke Jakarta mendukung tim kesebelasannya.
Tetapi yang sangat disayangkan adalah dalam setiap aksinya para bonek ini selalu membuat ulah, mulai dari pengrusakan tempat-tempat umum, tawuran sampai melakukan perampasan. Sehingga saat ini nama Surabaya identik dengan bonek. Dan hal itu sangat merugikan bagi kita sebagai warga Surabaya.
Sebenarnya kita patut menghargai keberanian yang diperlihatkan oleh para bonek, karena keberanian adalah modal untuk kita bisa menjadi berhasil dalam kehidupan ini. Tetapi keberanian ini akan sangat bermanfaat apabila para bonek diarahkan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Tanggal sepuluh november tidak mungkin diperingati sebagai hari pahlawan kalau tidak ada arek-arek Suroboyo yang berani.
Keberanian berarti tidak mudah menyerah, tidak gentar saat menghadapi tantangan. Keberanian bukan berarti tidak ada ketakutan, tetapi keberanian berarti maju terus walaupun takut.
Untuk itu menjadi tanggung jawab para orang tua, sekolah dan pemerintah untuk lebih memperhatikan nilai-nilai keberanian arek-arek Suroboyo agar mampu mengarah kepada hal-hal yang bermanfaat minimal bagi lingkungan mereka masing-masing, agar nilai-nilai keberanian ini tidak mewujud dalam bentuk yang destruktif.
Yok opo menurutmu Rek?
Sabtu, 29 Oktober 2011
Kebun Binatang Surabaya, antara kemelut dan manfaat
Kemelut yang terjadi Kebun binatang Surabaya (KBS) sangatlah disayangkan. Setelah beberapa koleksi satwa di kebun binatang mati secara beruntun, saat ini ada upaya untuk merelokasi beberapa satwa yang masih sehat, dan tetap meninggalkan satwa-satwa yang sakit di KBS. Selain karena kemelut di pengelola KBS, menurut beberapa sumber berita, kematian satwa disebabkan oleh management pakan dan kandang yang kurang bagus.
Sebagai warga Surabaya yang lahir dan dibesarkan di Surabaya saya sangat merasa prihatin, mengingat Kebun Binatang Surabaya memiliki beberapa fungsi bagi kota ini:
Sebagai Maskot Kota Surabaya
Kalau saya berada di daeah-daerah luar kota Surabaya seperti Pare atau Kediri, hal yang mereka ingin tahu adalah KBS. Seolah-olah itulah daya tarik kota ini. Ditambah lagi sebuah patung besar lambang kota Surabaya, yaitu Ikan Sura dan Buaya seolah mengklaim bahwa inilah maskot kota Surabaya.
Sebagai paru-paru kota
Sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta, yang penuh dengan asap kendaraan bermotor dan bangunan-bangunan gedung bertingkat, keberadaan KBS sangatlah penting sebagai paru-paru kota. Surabaya sangat memerlukan lahan terbuka yang banyak ditumbuhi pepohonan agar kota ini tidak semakin panas. Dan jangan sampai kemudian KBS beralih fungsi menjadi sebuah mall mengingat letaknya yang sangat strategis.
Sebagai Tempat Wisata
Surabaya adalah kota yang minim tempat wisata. Di kota ini hanya ada dua tempat wisata yang bernuansa alam, yaitu Pantai Kenjeran dan Kebun Binatang itu sendiri. Setiap hari minggu Kebun Binatang Surabaya sangat ramai dikunjungi para pelancong khususnya dari daerah yang berada di luar kota Surabaya.
Sebagai sarana pendidikan anak
Fungsi ini juga tidak kalah penting, beberapa kali saat saya masih berada di bangku SD, sekolah kami mengadakan kunjungan ke Kebon Binatang, tidak hanya untuk berwisata, tetapi ada sesuatu yang ingin diajarkan oleh guru-guru kami. Dan itu adalah sarana pendidikan yang sangat efektif untuk mengenalkan satwa kepada anak-anak. Anak saya juga saat berumur 1.5 tahun saya ajak berkunjung ke sana dan mengenalkan satwa-satwa yang ada disana. Dan saat saya menjadwalkan untuk mengunjungi kembali Kebun Binatang Surabaya, saya harus berpikir dua kali, takut karena banyaknya satwa yang sakit dan beberapa sampai meninggal. Lalu bagaimana anak-anak kami harus belajar mengenal satwa, akankah hanya melalui media seperti televisi atau internet?
Semoga KBS tetap ada, dan masing-masing pihak yang berkemelut menyadari betapa pentingnya KBS untuk seluruh masyarakat Surabaya pada khususnya dan Masyarakat Indonesia pada umunya.
Minggu, 23 Oktober 2011
Antara Yue Yue and Konfusius
Saya percaya siapapun pastilah hancur hatinya menyaksikan rekaman CCTV yang memperlihatkan bocah dua tahun bernama Yue Yue ditabrak dan dilindas oleh dua kendaraan, ditambah lagi 18 orang yang kebetulan melewati tempat kejadian membiarkan tubuh mungil itu tergeletak di jalan bersimbah darah.
Sebuah pertanyaan muncul di dalam diri saya, apakah peristiwa yang terjadi di kota Foshan, provinsi Guangdong itu merupakan gambaran masyarakat China yang egois, ataukah hanya suatu kebetulan dimana 18 orang yang melewati tubuh mungil yang bersimbah darah itu adalah orang-orang yang sedang tidak mau berurusan dengan orang lain.
Konfusius yang hidup tahun 551 – 479 SM mengatakan karena hubungan manusia dengan Titah Surga telah putus sehingga interaksi antar manusia dibentuk oleh egoisme dan keserakahan. Setiap tingkah laku manusia didorong oleh suatu keinginan kuat untuk melakukan tindakan terntentu yang menguntungkan dirinya sendiri. Salah satu bagian dari buku 10 Teori Tentang Hakikat Manusia yang ditulis Leslie Stevenson dan David L Haberman
Ternyata egoisme bukan barang baru dimuka bumi ini, bukan karena jaman semakin modern sehingga masyarakat menjadi egois, tetapi pada jaman berabad-abad yang lalu dimana Konfusius hidup hal itu sudah ada. Dan sifat egoisme ini terus menetap di masyarakat dengan wujud dan bentuk yang disesuaikan dengan jamannya.
Konfusius mengatakan bahwa setiap pribadi merupakan orang bijak yang potensial , yaitu orang-yang mampu berbuat kebajikan. Setiap manusia berusaha mengarahkan dirinya menjadi manusia yang utuh. Manusia yang utuh dan sempurna menurut Konfusius, adalah manusia yang memiliki hati yang penuh belas kasihan dan manusia yang senantiasa memupuk moral dirinya sendiri dan membawa kedamaian dan keamanan bagi sesamanya.
Untuk menaklukkan kecenderungan manusia berbuat sesuatu yang menguntungkan dirinya sendiri, Konfusius mengajarkan untuk melakukan segala sesuatunya tanpa pamrih, khususnya yang berkaitan dengan berbuat yang benar hanya karena secara moral benar, dan bukan karena alasan lain.
Setelah delapan hari koma akhirnya Yue Yue meninggal, saya berdoa semoga dengan peristiwa ini dan kepergiannya menjadi tonggak sejarah untuk menjunjung tinggi moralitas diatas segala kepentingan diri sendiri dan kelompok. Hanya doa yang mampu mewujudkan apa yang kita impikan.
Sabtu, 15 Oktober 2011
Resufle Kabinet.... Mengapa?
Isu tentang adanya resufle kabinet akhir-akhir ini cukup gencar diberitakan di media massa. Timbul suatu pertanyaan di dalam diri saya, dan mungkin juga sebagian warga negara Indonesia, mengapa sampai muncul isu adanya resufle kabinet, apakah para menteri saat ini tidak memiliki kualitas yang baik atau karena adanya ketidak percayaan dari masyarakat?
Secara pribadi dan itu sangat subyektif saya melihat hal kedualah yang memicu terjadinya resufle. Melihat sepak terjang para pemimpin di negeri ini, menimbulkan ketidak percayaan pada orang-orang yang dipimpin. Suatu organisasi akan mengalami kesulitan untuk berkembang apabila antara pemimpin dan mereka yang dipimpin tidak ada saling kepercayaan.
Salah satu penyebab adanya saling ketidak percayaan adalah terhambatnya komunikasi antara pemimpin dan mereka yang dipimpin. Coba simak para pemimpin kita kalau mengeluarkan statement selalu menggunakan bahasa politik, artinya statement yang disampaikan bisa memiliki arti dan persepsi yang berbeda-beda bagi para pendengarnya, sehingga banyak menimbulkan polemik, yang pada akhirnya tidak akan pernah membawa bangsa ini maju, tetapi terus berkutat berputar-putar tak tentu arah.
John C Maxwell dalam "21 Kualitas Kepemimpinan Sejati" , mengatakan bahwa mengembangkan ketrampilan berkomunikasi yang sempurna sungguh sangat penting bagi kepemimpinan yang efektif. Sang pemimpin harus dapat membagi pengetahuan serta gagasan-gagasannya untuk menciptakan desakan serta antusiasme pada diri orang lain. Jika seorang pemimpin tak dapat menyampaikan pesan dengan jelas dan tak dapat memotivasi orang lain untuk menindaklanjutinya, maka memiliki pesan untuk disampaikannyapun menjadi percuma.
Komunikasi bukanlah soal apa yang kita ucapkan, melainkan juga bagaimana kita mengucapkannya. Kunci komunikasi yang efektif adalah kesederhanaan. Lupakanlah upaya mengesankan orang dengan kata-kata atau kalimat-kalimat yang canggih. Jika kita ingin membangun hubungan dengan sesama, utamakanlah kesederhaan.
Kredibilitas mendahului komunikasi yang hebat. Ada dua cara untuk menyampaikan kredibilitas kita kepada pendengar.
Pertama, percayalah kepada apa yang kita ucapkan. Orang biasa akan menjadi komunikator yang ulung jika memiliki semangat keyakinan yang tinggi. Seorang Jendral lapangan Ferdinand Foch mengatakan; “Senjata yang paling ampuh dibumi adalah jiwa manusia yang berkobar-kobar”.
Kedua, amalkanlah ucapan kita. Tidak ada kredibiltas lebih besar ketimbang keyakinan pada tindakan.
Semoga para pemimpin yang baru bisa memperoleh kepercayaan dari masyarakat, sehingga pembangunan bangsa ini bisa berjalan dengan baik.
Bagaimana pendapat Anda?
Postingan Sebelumnya
Salam
Selasa, 04 Oktober 2011
Oh…. Kasihan Darsem
Beberapa waktu yang lalu disurat-surat kabar dan media massa televisi memuat berita yang membuat kita mengelus dada. Seorang TKW bernama Darsem yang bebas dari hukuman pancung pemerintah Arab Saudi, tapi bukan itu yang menjadi topik beritanya, selain dibebaskan dari hukuman pancung, Darsem juga menerima uang dari masyarakat Indonesia yang dengan sukarela menyumbangkan uangnya yang awalnya untuk uang tebusan, tetapi pemerintah Indonesia telah membayar uang tebusan tersebut, sehingga Darsem bebas, dan uang yang kurang lebih 1.2 milliar diberikan kepada Darsem. Betul-betul mendapatkan durian runtuh.
Tapi yang sangat disayangkan, uang yang ia terima tidak digunakan untuk hal-hal yang sifatnya membantu sesama, tetapi malah lebih banyak digunakan untuk kepentingan pribadinya.
Dengan uang, kita bisa mengukur karakter seseorang, apakah ia seorang yang pemurah ataukah ia seorang yang kikir.
Kemurahan hati dapat digambarkan secara sederhana sebagai mengubah fokus dari diri sendiri kepada sesama. Padahal menurut Seneca, Seorang pujangga Romawi; “Orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri, yang mengubah segalanya demi kepentingannya sendiri, tidak mungkin bahagia”.
Orang yang bermurah hati sebenarnya mereka sedang menghormati Tuhan, sang pemilik alam semesta ini, dan apabila Tuhan yang pemilik alam semesta ini kita hormati, maka Ia akan dengan senang hati melimpahkan kita dengan segala kemakmuran.
Dalam kehidupan ini, ukuran seseorang bukanlah banyaknya orang yang melayaninya atau jumlah uang yang diakumulasikannya; melainkan berapa banyak orang yang ditolongnya.
Ruths Smeltzer, mengatakan:
Anda belum menjalani hari yang sempurna, walaupun Anda telah mendapatkan uang, kecuali Anda telah melakukan sesuatu bagi seseorang yang takkan pernah dapat membalasnya.
Kebesaran bukanlah didefinisikan oleh apa yang diperoleh seseorang, melainkan oleh apa yang diberikannya.
Kemurahan sejati bukanlah tergantung kepada penghasilan – itu dimulai dari hati. Kemakmuran dan penghasilan yang tinggi tidaklah membantu orang menjadi lebih murah hati. Orang memberi bukanlah dari puncak dompetnya, melainkan dari dasar hati.
Oh… betapa kasihan engkau Darsem. Kita hidup hanya sekali didunia ini, satu-satunya hal yang orang ingat tentang kita bukanlah berapa banyak uang yang kita raih, yang mereka ingat adalah apakah kita orang yang bermurah hati.
Bagaimana pendapat Anda?
Salam
dma.setiawan
Kamis, 22 September 2011
KELUARGA
Pernahkan Anda berandai-andai, seandainya saya tidak dibesarkan oleh keluarga yang saat ini membesarkan saya, akan jadi apakah saya? Apakah Anda akan menjadi orang yang berbeda dari saat ini?
Kita tidak bisa berbuat apa-apa tentang garis keturunan kita, kita tidak bisa memilih keluarga dimana kita dibesarkan, tetapi kita bisa menentukan keluarga seperti apakah yang akan kita bangun. Kalau saat ini Anda berada ditengah-tengah keluarga yang kacau, ingatlah bahwa masa depan Anda ditentukan oleh Anda sendiri, bukan karena garis keturunan Anda. Anda bisa membentuk keluarga yang lain dari keluarga dimana Anda dibesarkan saat ini.
Mengapa keluarga begitu penting? Seperti tubuh manusia yang terdiri dari sel-sel, begitu juga dengan keluarga yang adalah sel dari sebuah Negara. Apabila sel-sel dalam tubuh manusia baik, maka sehatlah tubuh itu, begitu juga apabila sel-sel yang ada di Negara baik, maka Negara itu akan menjadi baik. Karena keluarga memiliki fungsi :
Keluarga adalah wadah pembentukan karakter.
Melalui interaksi setiap harinya, tiap-tiap anggota keluarga belajar mengembangkan karakter. Bukan saja membentuk karakter anak-anak yang tinggal dirumah, melainkan juga terus membentuk karakter setelah dewasa melalui kebiasaan-kebiasaan yang dikembangkan setiap harinya.
Cermin yang mengungkapkan kebenaran.
Didalam kelargalah Anda bisa mengenal diri sendiri, mengenal kelemahan dan kekuatan Anda. Kalau Anda bisa menciptakan lingkungan yang tentram di dalam keluarga, dimana setiap anggota keluarga aman menjadi dirinya sendiri, maka itu menjadi lingkungan belajar yang kuat.
Bagaimana pendapat Anda?
Salam
dma.setiawan
Salam
dma.setiawan
Langganan:
Postingan (Atom)












