Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Januari 2014

Graham Hancock: Piramida Gunung Padang Saksi Peradaban Atlantis

Akhir tahun lalu, tepatnya bulan Desember 2013 situs Piramida Gunung Padang kedatangan tamu arkeolog dan penulis dunia untuk meneliti sejarah peradaban yang hilang di Asia. Graham Hancock secara resmi menceritakan perjalanannya ke Indonesia, dimana dalam pengakuan yang dipublikasi 16 Januari 2014 pada website pribadi miliknya menyatakan Gunung Padang merupakan kunci dan saksi dari peradaban yang hilang. 


Graham Hancock adalah seorang penulis dan jurnalis Inggris yang mengkhususkan diri dalam teori kenvensional melibatkan peradaban kuno, monumen batu (megalit), mitos kuno dan astrologi kuno. Dia telah menerbitkan banyak buku dan telah terjual lebih dari lima juta kopi di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam dua puluh tujuh bahasa. Tetapi metode dan kesimpulannya hanya mendapatkan dukungan sedikit dikalangan akademis, sehingga karyanya dicap sebagai Pseudoarchaeology.

Graham Hancock, Pencarian Atlantis Di Piramida Gunung Padang 


Ditemani Dr Natawidjaja, Graham Hancock mengamati situs kuno yang terletak di Jawa Barat, dikelilingi lanskap sawah dan perkebunan teh tak jauh dari kota Bandung. Masyarakat setempat menyebut situs suci sebagai pencerahan yang digunakan untuk meditasi sejak zaman dahulu. Berdasarkan dugaan tanpa penanggalan radio karbon, usia situs dibangun pada tahun 1500 hingga 2500 SM. Tetapi setelah penggalian dan penanggalan radiokarbon pertama menunjukkan hasil berbeda, sekitar 500 sampai 1500 SM. Penggalian lebih dalam menghasilkan bukti berbeda dan mengejutkan, dimana pada kedalaman 90 meter diperkirakan situs dibangun tahun 20,000 hingga 22,000 SM bahkan lebih tua daripada itu.

Situs Piramida Gunung Padang

Secara umum dalam catatan sejarah yang kita kenal, bencana besar pernah terjadi tahun 9600 SM, periode Upper Palaeolithic yang membawa manusia memasuki zaman es. Lebih tepatnya waktu itu Indonesia lebih dikenal sebagai Sundaland yang terdiri dari serangkaian pulau yang menyatu. Tidak ada Laut Merah, Teluk Persia, Sri Lanka menjadi satu dengan India Selatan, Siberia bersatu dengan Alaska, Australia bergabung dengan New Guinea. Hingga Periode itu tiba, es yang menutupi Eropa dan Amerika Utara mencair sehingga permukaan laut yang tadinya lebih rendah 400 meter akhirnya menutupi sebagian besar daratan diseluruh dunia hingga berbentuk benua dan kepulauan saat ini.

Sejarah telah menganggap sebelum tahun 9600 SM nenek moyang manusia merupakan ras pemburu dan pengumpul primitif, tetapi dari segi arsitektur mampu membangun piramida yang saat ini belum sanggup dibuat manusia. Sekitar tahun 4000 SM peradaban meningkat dari segi struktur ekonomi dan sosial, hal ini memungkinkan untuk mendirikan situs megalitik awal. Kota pertama yang telah ditemukan berkisar tahun 3500 SM di Mesopotamia dan setelah itu menyusul Mesir. Di Inggris, juga terdapat situs-situs di Outer Hebrides dan Avebury, Stonehenge diperkirakan sekitar tahun 2400 SM.

Sejarawan dan arkeolog mungkin telah terpengaruh dengan peradaban legendaris yang disebut Atlantis, hal ini disebutkan Plato dalam dialog Timias dan Critias yang menyebut peradaban awal yang mengalami kehancuran total akibat banjir besar dan gempa bumi sekitar tahun 9600 SM. Dari penelitian situs Piramida Gunung Padang, apa yang disebutkan Plato mungkin bukan suatu rekayasa atau hanya sekedar syair puisi. Peradaban itu mengalami ketidakstabilan global antara tahun 10900 dan 9600 SM akibat bencana banjir dan gempa. Inilah zaman yang disebut Younger Dryas, penuh misteri dan gejolak iklim yang belum mampu diungkapkan arkeolog karena kurangnya bukti.

Apa yang telah dilakukan tim arkeolog pada Piramida Gunung Padang telah mendapatkan gambaran lapisan bangunan yang menggunakan unsur megalitik basalt Columnar. Basalt Columnar tidak terbentuk secara alami, tetapi Piramida Gunung Padang telah menggunakannya dalam bentuk yang tidak pernah ditemukan di alam. Secara Geofisika telah jelas bahwa Gunung Padang bukan bukit alami melainkan Piramida buatan manusia, dan asal usul pembangunan piramida ini jauh sebelum akhir zaman es.

Situs ini merupakan saksi besar mampu menjelaskan konstruksi canggih yang (mungkin) juga tenaga ahli yang sama telah membangun piramida Mesir dan situs megalitik Eropa. Piramida Gunung Padang bukan satu-satunya situs yang menimbulkan tanda tanya besar bagi arkeolog, dibelahan dunia lain seperti Turki juga terdapat bukti yang masih digali selama dekade terakhir. Situs itu disebut Gobekli Tepe terdiri dari serangkaian lingkaran batu megalitik besar dengan skala Stonehenge dan memang sengaja dikubur oleh manusia misterius yang membuatnya, kemungkinan dibangun sekitar tahun 8000 SM. Tetapi lingkaran itu telah ada sejak tahun 9600 SM, setidaknya terdapat dua puluh lingkaran pada skala yang sama dan mungkin masih banyak yang terkubur. Menurut Kalus Schimidt, kemungkinan usianya jauh lebih tua daripada yang sudah ditemukan saat ini.

Menurut Graham Hancock, apa yang ditulisnya dalam buku Fingerprints menceritakan sebuah peradaban maju yang dihilangkan dari sejarah dalam bencana global pada akhir zaman es. Tetapi bukti itu belum bisa ditemukan, dimana aspek hipotesis menjadi salah satu alasan yang dikritik banyak arkeolog. Menurutnya, Gobleki Tepe merupakan salah satu pembuktian yang bisa diusut lebih lanjut tentang keberadaan peradaban yang hilang. 

Yang paling menarik bagi Hancock adalah Piramida Gunung Padang, sebuah bukti yang selama ini dicari untuk membenarkan teorinya. Dia berharap bahwa situs Gunung Padang mungkin saja "Hall of Records" Atlantis, peradaban yang hilang.

Referensi

Sumber : www.isains.com


Kamis, 17 November 2011

Pulang ke desa

Sudah satu bulan yang lalu kami punya rencana untuk mengunjungi orang tua istri saya yang tinggal di Pare-Kediri. Setelah ijin cuti saya 3 hari di approve kami berangkat ke Pare tanggal 12 November 2011. Apa-apa yang perlu dibawa sudah dipersiapkan istri saya, tidak lupa laptop dan modem agar selama disana masih bisa tetap ngeblogg. Karena kami mempunyai anak yang masih berumur 1.5 tahun, travel menjadi pilihan yang lebih reasonable dibandingkan bus umum.

Tidak ada hal yang istimewa kepulangan kami ke Pare, hanya melepas rindu sang istri terhadap orang tuanya, setelah terakhir kami pulang saat lebaran, beberapa bulan yang lalu. Tetapi juga sebagai sarana refreshing saya yang sudah penat dengan hirup pikuk suasana kota Surabaya.

Sesampai disana, anak saya langsung terheran-heran dengan beberapa binatang yang dilihat, seperti sapi, kambing dan ayam yang jarang ditemui di kota Surabaya. Sedangkan saya langsung melemparkan pandangan ke hamparan sawah yang luas yang membuat mata rasanya teduh dan pikiran jadi fresh, yang juga jarang saya temui di Surabaya.
Ini foto diambil dari teras depan rumah 

Foto diambil dari samping rumah 

Foto diambil dari belakang rumah

Ada tempat makan yang cukup menarik sebetulnya disana, akan tetapi karena kami waktu itu makan disana malam hari sedangkan hanphone saya tidak mampu mengambil gambar dengan cahaya minim jadi saya belum bisa bagikan saat ini. Mungkin lain waktu, saat saya kesana lagi pasti akan saya bagikan.
Nah ini hasil pakai camera hp yang tidak punya fasilitas minim cahaya. Padahal tempat makannya cukup bagus, ah... sayang sekali....

Pare adalah sebuah kecamatan di kabupaten Kediri propinsi Jawa Timur, jadi termasuk kota kecil sehingga perlu sedikit kesabaran untuk membeli BBM, antriannya cukup panjang sedangkan jarak pompa bensin satu dengan yang lain cukup jauh.

Terpaksa harus antri BBM

Selama liburan ini saya betul-betul ingin merefresh pikiran saya, saya habiskan waktu hanya untuk bermain dengan anak saya, kalau anak saya lagi tidur saya ngobrol dengan istri atau saya buka laptop untuk melakukan blogg walking atau posting beberapa artikel.

Tetapi hal itu tidak bisa berlangsung lama, karena ijin cuti berakhir tanggal 16 November 2011, jadi kami harus balik ke Surabaya. Saat kami kembali ke Surabaya, kami harus menghadapi kemacetan di daerah trosobo-krian karena warga sekitar memblokir jalan, baik dari Surabaya-Krian dan sebaliknya Krian-Surabaya. Pemblokiran jalan oleh warga dikarenakan protes warga terhadap salah satu pabrik disana yang mencemari pemukiman warga sekitar yang tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah. Saya hanya bisa mengeluh dalam hati, akibat ulah segelintir orang yang ingin memaksimalkan keuntungan akhirnya harus mengorbankan seluruh pengguna jalan. Tidak adil rasanya, tetapi beginilah Indonesia, uang berbicara lebih keras daripada peraturan hukum. Perlu waktu 5 jam perjalanan Pare – Surabaya.

Setelah lima hari berhenti dari rutinitas pekerjaan dan berada di alam pedesaan, membuat tubuh dan jiwa saya terasa segar kembali, dan saat tulisan ini dibuat saya sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk mulai beraktivitas esok pagi.

Inilah sedikit oleh-oleh saya dari desa yang bisa saya bagikan. Sebetulnya ada banyak oleh-oleh yang saya bawa dari desa seperti mangga, rambutan, beras, dan kacang, akan tetapi hal itu tidak bisa dibagikan secara online bukan?  he he he….

Salam